BAB
I
PENDAHULUAN
Kata
Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche yang berarti jiwa, dan Logos
yang berarti ilmu. Sehingga secara harfial Psikologi dapat diartikan Ilmu Jiwa
yang dimana sebuah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang (sesuatu yang tidak
dapat dilihat secara kasat mata, seperti sifat, minat, dll). Tetapi menurut
Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa, Psikologi
adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku (prilaku) manusia
dengan hubungannya terhadap lingkungan.
Psikologi
Pendidikan merupakan salah satu cabang dari ilmu Psikologi yang bersifat ilmu
terapan, sehingga Psikologi Pendidikan dapat diartikan sebagai berikut, yaitu
“Disiplin Ilmu yang mempelajari tingkah laku (prilaku) manusia khususnya
peserta didik (pelajar) dalam penerapan prinsip-prinsip belajar dan kurikulum
yang digunakan”.
Setiap manusia khususnya pelajar
pasti akan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang tidak akan dapat
ditolak, terlepas dari kehendak individu yang bersangkutan. Proses tersebut
berjalan dengan kodrati dan melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan oleh-Nya.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mukminun ayat 14 :
وقد خلقكم أطوارا
Artinya :
Padahal Dia sesungguhnya telah
menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian
(
Q.S. 71 : 14 )
Memang tidak dapat kita pungkiri
bahwa setiap manusia akan mengalami pertumbuhan yaitu seperti bertambahnya
tinggi, berat badan, tumbuhnya rambut pada daerah-daerah tertentu, dan
lain-lain. Berarti pertumbuhan merupakan suatu proses perubahan secara jasmaniah
(fisik). Tetapi tidak dipungkiri juga bahwa setiap manusia khususnya pelajar
akan mengalami perkembangan secara rohaniah atau mental (jiwa).
Maka dari itu agar proses
pertumbuhan dan perkembangan berjalan dengan baik dan mengarah ke perkembangan
yang positif, diperlukanlah sebuah ilmu yang dapat mempelajarinya yaitu salah
satu cabang ilmu Psikologi yaitu Psikologi
Perkembangan.
Survai membuktikan bahwa hampir 60%
perkembangan mental (psikis) seorang manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan
lebih mudah terserap, sehingga banyak yang mengandalkan dunia pendidikan untuk
membantu mengawasi dan mengarahkan perkembangan mental (psikis) itu kearah yang
lebih baik selain dari pengawasan dan pengarahan dari pihak keluarga. Karena
kedua pihak tersebut sangat berperan penting dalam perkembangan psikis anak
(pelajar) maka haruslah saling bekerjasama.
Di dalam dunia pendidikan terdapat
beberapa aspek perkembangan, seperti yang disampaikan Nana Syaodih Sukmadinata
dalam bukunya Landasan Psikologi
Proses Pendidikan mengatakan bahwa perilaku kegiatan Individu dikelompokkan
menjadi tiga kategori yaitu: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik.
Proses Pendidikan mengatakan bahwa perilaku kegiatan Individu dikelompokkan
menjadi tiga kategori yaitu: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik.
Tetapi pada kesempatan kali ini
penulis akan membahas dan menitik beratkan terhadap Pertumbuhan, Perkembangan,
dan Kematangan Psikomotorik Dalam Dunia Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kematangan
1.
Pertumbuhan (Growth)
Pertumbuhan
secara Biologi merupakan perubahan
ukuran organisme karena bertambahnya sel-sel dalam setiap tubuh organisme yang
bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat kuantitatif[1].
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan bentuk
(bertambah besar) jasmaniah (fisik) yang terjadi secara alamiah pada setiap
makhluk hidup.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan
merupakan proses perubahan yang bersifat kuantitatif dan menyangkut jasmaniah.
Contoh :
Ø Seorang
remaja yang tingginya 156 cm beberapa tahun kemudian berubah menjadi 162 cm,
Ø Seorang
balita yang beratnya 13 kg berubah menjadi 15 kg, dan lain sebagainya.
2.
Perkembangan (Development)
Perkembangan
secara Biologi merupakan proses
perubahan organisme ke arah kedewasaan dan biasanya tidak bisa diukur oleh alat
ukur atau bersifat kualitatif.
Perkembangan
adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan, yang berlanjut sepanjang
rentang hidup[2].
Perkembangan
adalah suatu proses bertambah sempurnanya suatu hal dalam sudut pandangnya, dan
menandakan sebagai hasil proses pematangan. Tetapi biasanya lebih banyak
berkaitan dengan psikis.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa perkembangan
adalah proses perubahan yang dimulai sejak hingga rentang hidupnya yang
bersifat kualitatif dan bersangkutan dengan psikis manusia[3].
Contoh :
Ø hormon-hormon
di dalam tubuh mulai matang dan mulai berfungsi sesuai fungsinya,
Ø alat
reproduksi mulai sempurna,
Ø emosi
mulai berkembang,
Ø intelektual
dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan mulai terangsang,
Ø perubahan-perubahan
pada pengetahuan, kemampuan, sifat sosial, moral, kecerdasan, keyakinan agama,
dan lain sebagainya[4].
3.
Kematangan
Kematangan
dalam proses pembelajaran ialah suatu keadaan/ tahap dalam pencapaian proses
pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam kegiatan belajar yang dilakukannya.
Dengan demikian kematangan dalam pendidikan ialah kematangan potensi fisik
& potensi metal psikologis yang telah dicapai dalam suatu tahap pertumbuhan
& perkembangan.
a.
Fungsi Kematangan dalam Belajar
Ø Memberi
bahan mentah/bahan baku bagi suatu perkembangan.
Ø Memberi
batas & kualitas perkembangn.
Ø Memberi
kemudahan bagi pendidik untuk membimbing[5].
B. Aspek
– Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan
Makna
perkembangan pada seorang anak adalah terjadinya perubahan yang besifat terus
nenerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap, lebih komleks dan
lebih berdiferensiasi (Berk, 2003). Jadi berbicara soal perkembangan anak yang
dibicarakan adalah perubahan. Pertanyaannya adalah perubahan apa saja yang
terjadi pada diri seorang anak dalam proses perkembangan ? Untuk menjawab
pertanyaan itu maka perlu dipahami tentang aspek-aspek perkembangan, yaitu :
1.
Perkembangan Fisik
Perkembangan
Fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi anggota badan, tampang, dan
perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak,
persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan[6].
2.
Perkembangan Kognitif
Perkembangan
Kognitif yaitu perubahan yang bervariasi dalam proses berpikir dalam kecerdasan
termasuk didalamnya rentang perhatian, daya ingat, kemampuan belajar, pemecahan
masalah, imajinasi, kreativitas, dan keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan
mengunakan bahasa[7].
3.
Perkembangan sosial-emosional
Perkembangan
sosial-emosionalyaitu perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami
diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang
orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin
persabatan, dan pengertian tentang moral[8].
Harus dipahami dengan sungguh sungguh
bahwa ketiga aspek perkembangan itu merupakan satu kesatuan yang utuh
(terpadu), tidak terpisahkan satu sama lain. Setiap aspek perkembangan
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek lainnya. Sebagai contoh perkembangan
fisik seorang anak seperti meraih, duduk, merangkak, dan berjalan sangat
mempengaruh terhadap perkembangan kognitif anak yaitu dalam memahami lingkungan
sekitar di mana ia berada. Ketika seorang anak mencapai tingkat perkembangan
tertentu dalam berpikifr (kognitif) dan lebih terampil dalam bertindak, maka
akan mendapat respon dan stimulasi lebih banyak dari orang dewasa, seperti
dalam melakukan permaianan, percakapan dan berkomunikasi sehingga anak dapat
mencapai keterampilan baru (aspek sosial-emosional). Hal seperti ini memperkaya
pengalaman dan pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya semua aspek
perkembangan secara menyeluruh. Dengan kata lain perkembangan itu tidak terjadi
secara sendiri-sendiri.
C. Faktor-Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
1. Nativisme
Aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu
semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi,
perkembangan individu semata-mata tergantung kepada dasar.
2. Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu
semata-mata tergantung kepada faktor lingkungan, sedangkan dasar tidak
berpengaruh sama sekali.
3. Konvergensi
Aliran ini berpendapat bahwa didalam perkembangan
individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan
penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan
tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai
supaya dapat berkembang[9].
D. Pengertian
Psikomotorik
Dalam
psikologi, psikomotorik diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal,
keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-garakannya. Atau
dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yangmeningkatkan atau menghasilkan
stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik[10].
E. Tahap-Tahap
Perkembangan Psikomotorik
1.
Periode Pra-Kelahiran (Prenatal Period)
Waktu
mulai pembuahan hingga kelahiran, sekiar 9 bulan. Selama waktu yang menakjubkan
ini, sebuah sel tunggal tumbuh menjadi organisme, lengkap dengan sebuah otak
dan kemampuan berprilaku.
2.
Masa Bayi (Infancy)
Periode
perkembangan yang terus terjadi dari lahir sampai sekitar usia 18 hingga 24
bulan. Timbul aktivitas kemampuan psikologis yang baru dimalai dari kemampuan
berbicara, mengatur indera dan tindakan fisik, berpikir dengan simbol, dan
meniru atau belajar dari orang lain.
3.
Masa Kanak-Kanak (Early Childhood)
Periode
perkembangan yang terjadi mulai akhir masa bayi hingga usia sekitar 5 atau 6
tahun, disebut juga tahun pra-sekolah. Selama waktu ini, anak kecil belajar
mandiri dan merawat diri sendiri, mengembangkan keterampilan, kesiapan
sekolah(mengikuti perintah/ mengenal huruf) dan mereka mengahbiskan berjam-jam
untuk brmain dengan teman sebaya.
4.
Masa Kanak-Kanak Tengah dan Akhir
(Middle and Late Childhood)
Periode
perkembangan yang dimulai sekitar usia 6 hingga usia 11 tahun, peridode ini
disebut juga periode sekolah dasar. Anak mengusai keterampilan dasar membaca,
menulis, arismatik, dan mereka secara formal dihadapkan pada dunia yang lebih
besar dan budayanya. Prestasi menjadi tema sentral yang lebih dari dunia anak,
dan kontrol diri menungkat.
5.
Masa Remaja (Adolesence)
Periode
peralihan perkembangan dari kanak-kanak ke masa dewasa awal memasuki masa ini
sekitar usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia18 hingga 22 tahun. Masa
remaja dimulai dengan perubahan fisik yang cepat, pertambahan tinggi dan berat
badan yang dramatis, perubahan dalam kontur tubuh, dan perkembangan
karateristik seksual seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis dan
wajah, dan pembesaran suara. Pencarian identitas dan kebebasan merupakan ciri
uttaama periode ini,. Makin banyak waktu yang dihabiskan di luar keluarga atau
rumah. Pikiran menjadi lebih abstrak, idealis, dan logis[11].
F. Hubungan
Psikomotorik Dengan Tingkah Laku dan Hasil Belajar
Apakah
perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar atau perkembangan itu hasil dari
proses belajar ? Pertanyaan itu bisa dijawab ya, bahwa perkembangan itu
prasyarat untuk bisa belajar. Artinya jika seorang anak belajar perlu didasari
oleh kesiapan (kematangan) yang dicapai dalam perkembangan. Misalnya seorang
anak tidak mungkin akan bisa belajar bahasa dan bicara jika belum mencapai
kesiapan (kematangan), meskipun lingkungan diciptakan sedemikian rupa agar anak
dapat belajar bahasa dan bicara. Sebaliknya, pertanyaan itu bisa dijawab tidak
bahwa perkembangan itu adalah hasil belajar. Artinya perubahan yang terjadi
pada diri seorang anak diperoleh melaui proses interaksi dengan lingkungannya.
Misalnya meskipun setiap anak memiliki potensi untuk belajar bahasa dan bicara
dan telah mencapai kematangan untuk siap belajar, tetapi anak tersebut sama
sekali tidak mendapatkan rangsangan dari luar (lingkungan) untuk belajar, maka
anak itu tidak akan memperoleh keterampilan berbahasa. Oleh karena itu terdapat
hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antara proses belajar dalam lingkungan
dengan kematangan perkembangan. Dengan kata lain pada saat tetentu belajar ditentukan
oleh kematangan perkembangan, tetapi pada saat yang lain perkembangan adalah
hasil dari proses belajar. Konsekuensi dari keadaan ini maka jika seorang anak mengalami
hambatan dalam mencapai kematangan perkembangan karena ada gangguan pada aspek
fisik atau kognitif atau sosial-emosional maka dapat dipastikan akan mengalami
hambatan belajar, dan anak yang mengalami hambatan belajar akan mengalami
hamabtan perkembangan. Anak yang mengalami hambatan belajar dan atau hambatan
perkembangan, memerlukan layanan khusus dalam pendidikan dan disebut anak
berkebutuhan khusus.
Pemberdayaan
potensi yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik pada pendidikan anak
usia dini (taman kanak – kanak) akan menjadi cikal bakal pembentukan karakter
dan sebagai titik awal dari pembentukan SDM yang berkualitas yang memiliki wawasan,
intelekual, kepribadian, bertanggung jawab, serta semangat mandiri. Kemampuan
hidup tersebut tidak lain adalah agar anak mempunyai ketrampilan hidup (life
skill) dan siap menerima pendidikan selanjutnya[12].
Menurut hasil
observasi Anik Susanti (Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA) terhadap anak
sekolah dasar yang berumur 10 tahun diperoleh data sebagai berikut[13] :
|
Perkembangan
Psikomotor
|
|
|
Aspek
yang diobservasi
|
Hasil
observasi
|
|
Gerak
|
Pada
anak usia 10 tahun sudah mampu bergerak secara aktif.
|
|
Cara
berlari
|
Pada
anak 10 tahun sudah mampu berlari secara cepat, meskipun frekuensi berlari
anak perempuan dan laki-laki berbeda. Anak laki-laki cara berlarinya lebih
cepat disbanding anak perempuan.
|
|
Melompat
|
Pada
anak yang berusia 10 tahun sudah mampu melompat yang lumayan tinggi sebanding
dengan tingginya yang terus bertambah.
|
|
Menari
|
Pada
anak sekolah dasar khusus nya anak yang berusia10 tahun sudah bisa meniru
tarian yang relative mudah. Bukan tarian yang sulit-sulit. Mereka cenderung
menari tarian daerah disbanding disuruh nge-dance.
|
|
Melukis
|
Pada
anak yang berusia 10 tahun masih terbiasa melukis pemandangan, atau tokoh
film yang dia sukai. Misalnya: film spongebob, film dora, atau film
dragonball.
|
|
Berbicara
|
Pada
anak usia 10 tahun sudah bisa berbicara dengan lancar, mereka sudah mampu
mengutarakan maksudnya atau keinginannya.
|
|
Membongkar
dan Memasang
|
Pada
anak yang berusia 10 tahun sudah mampu membongkar maupun memasang misalnya
puzzle. Meskipun terkadang mereka masih kesulitan jika puzzle tersebut
relative rumit.
|
G. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Psikomotorik
Faktor-Faktor yang
mempengaruhi Perkembangan Psikomotorik dalam kaitannya dengan pendidikan, terdiri atas :
1.
Faktor yang terdapat dari diri siswa
sendiri. Diantaranya, terbagi menjadi :
a. Konstitusi
tubuh,
b. Struktur
& keadaan fisik,
c. Koordinasi
motorik,
d. Kemampuan
metal & bakat,
e. Tingkat
emosionalitas yang terkendali.
2.
Faktor yang berasal dari lingkungan
a. Lingkungan
keluarga,
b. Lingkungan
sekolah (dunia pendidikan).[14]
H. Perbedaan
Individual Dalam Perkembangan Psikomotorik
Setiap Individu pasti
memiliki perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya, contohnya ada
individu yang proses perkembangan dan pematangannya yang berjalan cepat dan
pula yang berjalan lambat. Akibat dari perbedaan itu maka perkembangan
psikomotorik setiap individu berbeda-beda, maka perlulah suatu bimbingan baik
di luar lingkup keluarga maupun di dalam lingkup keluarga.
Menurut para ahli
psikologi, individu biasanya mengalami dua masa pancaroba atau krisis yang
biasanya disebut Trotz. Masa ini terjadi dalam periode :
1. Periode
pertama : Terjadi pada usia 2 – 3 tahun dengan ciri utama anak menjadi egois,
selalu mendahulukan kepentingan diri sendiri.
2. Periode
kedua : Terjadi pada usia antara 14 – 17 tahun dengan ciri utama sering membantah orang tuanya dan
cenderung mencari identitas diri[15].
Mengingat
setiap individu selalu perbedaan dalam perkembangannya, contoh dalam proses
perkembangannya ada berjalan cepat dan ada pula yang berjalan lambat. Maka dari
itu tentang Trotz yang kedua (diatas) perlu digaris bawahi bahwa usia 14 – 17
tahun bukanlah harga mati. Artinya rentang usia remaja yang mengalami krisis
tahap kedua ini dimasing-masing daerah mungkin berbeda boleh jadi lebih cepat
atau lebih lambat.
Proses perkembangan individu memiliki karakter kecepatan yang bervariasi. Dengan kata lain ada individu memiliki tingkat perkembangan cepat, sedang dan lambat. Tingkat proses perkembangan individu tersebut diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Proses perkembangan individu memiliki karakter kecepatan yang bervariasi. Dengan kata lain ada individu memiliki tingkat perkembangan cepat, sedang dan lambat. Tingkat proses perkembangan individu tersebut diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Sifat-sifat
anak trotz ini adalah meraja-raja, egosentris, keras kepala, pembangkang dan
sebagainya. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan memperoleh kebebasan dan
perhatian.
I.
Karakteristik Perkembangan Fisik dan
Psikomotorik dari Massa ke Massa Serta Implikasinya Bagi Pendidikan
Menurut John W.
Santrock pada bukunya yang berjudul Perkembangan Anak Jilid 1, disebutkan bahwa
Karakteristik Perkembangan Psikomotorik terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
(Tetapi Karakteristik Perkembangan Psikomotorik ini ditujukan untuk periode
bayi sampai kanak)
1. Refleks
Refleks
merupakan reaksi alami terhadap stimulus yang mengatur gerakan bersifat
otomatis dan diluar kendali. Refleks adalah mekanisme pertahanan hidup yang
dibawa secara genetik.
2. Keterampilan
Motorik Kasar
Keterampilan yang mengikuti aktivitas otot yang
besar seperti menggerakan lengan dan berjalan.
a. Perkembangan
Postur Tubuh,
b. Belajar
Berjalan.
3. Ketarampilan
Motorik Halus
Melibatkan gerakan yang diatur dengan lebih halus
seperti keterampilan tangan
a. Penggunaan
Tangan[16]
Sedangkan
menurut Fuji Lestari, Karakteristik Perkembangan Psikomotorik Serta
Implikasinya Bagi Pendidikan dibagi menjadi 3 (tiga) massa, yaitu :
1. Massa
Anak-Anak
Karakteristik
:
Ketika
anak-anak sekolah menghadapi dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertantang dan perlu mengembangkan
perilaku yang bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Anak-anak
belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berpikir mengenai apa
yang sedang ia perbuat / intelegensi dasardimiliki anak tersebut kelak. Pada
tahap ini anak-anak belajar secara praktis dengan keterampilan-keterampilan
perseptual, motorik, kognitif dan kemampuanbahasa yang mereka miliki untuk
melakukan sesuatu.Atas prakarsa mereka sendiri, anak-anak pada tahap ini
beralih ke dunia sosial yang lebih luas.
Pengatur utama prakarsa
adalah suara hati, prakarsa dan antusiasme mereka dapat menyebabkan mereka
menerima hadiah / hukuman. Muncul pula gejala insight – learning (melihat
situasi problematik, berpikir sesaat, spontan memperoleh pemahaman) dan
perilaku-perilaku ranah cipta / kognitif.Perasaan bersalah jika anak tidak
diberi tanggung-jawab dan dibuat terlalu cemas, rasa bersalah dengan cepat digantikan
oleh rasa berhasil.Rata-rata binatang beberapa saat setelah lahir sudah bisa mandiri.
Sebuah tayangan di TV seekor bayi jerapah yg kira-kira 4 jam setelah lahir sudah
berusahaberdiri dan lari dengan ibunya. Katanya supaya tidak jadi korban makanan
harimau. Bayi reptil begitu menetas sudah bisa berenang dan berlari-lari. Semua
bayiini, biarpun sudah bisa lari tetapi mereka tetap bermain-main. Konon, masa bermain
ini merupakan masa mereka berlatih, menguatkan tulang dan belajar keahlianyang
mereka butuhkan untuk masa dewasa mereka kelak ketika mereka harus mandiri.Untuk
manusia, masa kanak-kanak sangat lama, dan ini disebabkan karena keahlian yang
harus mereka kembangkan kelak juga jauh lebih rumit daripada sekedar
mencari, menerkam dan memburu makanannya sehingga masa bermainnyapun lebih lama daripada mahluk lain. Bagi Erikson, masa usia 3 sampai 6 tahun, ini adalah fase bermain. Dalam fase inilah anak-anak belajar berfantasi, belajar mentertawakan diri, mulai belajar bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada fase initerletak fondasi anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada fase berikut.
mencari, menerkam dan memburu makanannya sehingga masa bermainnyapun lebih lama daripada mahluk lain. Bagi Erikson, masa usia 3 sampai 6 tahun, ini adalah fase bermain. Dalam fase inilah anak-anak belajar berfantasi, belajar mentertawakan diri, mulai belajar bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada fase initerletak fondasi anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada fase berikut.
2. Massa
Remaja
Periode ini individu /
anak berpikir intuisif / berpikir mengandalkan ilham, anak-anak berimajinasi
memperoleh kemampuan 1 langkah berpikir mengkoordinasi pemikiran & idenya
dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri. Pada tahap ini
remaja / individu dihadapkan pada temuan siapa mereka? Bagaimana mereka nantinya?
Kemana tujuan mereka?
Menuju dalam kehidupannya
=> Penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran karir merupakan hal
penting. Pada tahap ini remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara
serentak / berurutan 2 ragam kemampuan kognitif.
a.
Kapasitas menggunakan hipotesis.
b.
Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip
abstrak, logis dan idealisitk (berpikir tentang pemikiran itu sendiri).
Anggapan
dasar seorang remaja akan berpikir hipotesis => berpikir mengenai sesuatu
khususnya dalam pemecahan masalah dengan menggunakan dasar yangrelevan dengan
lingkungan yang ia respon, memiliki perhatian ke masa depan, etika ideal, dsb. Guru
& orang tua mengetahui bahwa kecerdasan itu melibatkan interaksi aktif
antara siswa dengan dunia disekitarnya. Oleh karenanya lingkungan siswa,
sepertirumah tinggal, seyogyanya ditata sebaik-baiknya agar memberi efek
positif terhadap perkembangan intelegensi anak.
Terjadi
proses asimilasi (info baru digabungdalam pengetahuan yang ada) =>
pergolakan kognitif yang tajam.Sekolah sebagai pelatihan-pelatihan intelektual,
mempertahankan orientasi-orientasinya pada hal yang komprehensif yang dirancang
untuk melatih remaja secaraintelektual seperti kejuruan & sosial, dalam
perkembangan fisik, kognitif dan sosial orang tua dan guru harus terus memantau
agar meningkatkan kemandirian remaja tertantang secara intelektual oleh tugas
akademis dan menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan sosial dan
emosional sebagai sesuatu yangsecara intrinsik penting dalam sekolah bagi
remaja.
3. Massa
Dewasa
E.B. Hurlock (1986)
mengemukakan bahwa penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healthy
personality) ditandai dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Mampu
menilai diri secara realities.
b. Mampu
menilai situasi secara realistik.
c. Mampu
menilai prestasi yang diperoleh secara realistik.
d. Menerima
tanggung jawab.
e. Kemandirian
(autonomi).
f. Dapat
mengontrol emosi.
g. Berorientasi
tujuan.
h. Berorientasi
keluar.
i.
Penerimaan sosial.
j.
Memiliki filsafat hidup.
Periode
Perkembangan : Masa Awal Dewasa (18/19 - 30 tahun)
Karakteristik
:
Individu
menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi yang akrab dengan orang lain,
Erikson menggambarkan keakraban sebagai penemuan diri sendiri,tanpa kehilangan
diri sendiri pada orang lain.Pada periode ini, individu termotivasi untuk
berhasil melalui perkembangan sosial. Pada proses belajar individu membentuk
keintiman dalam proses pembentukan identitas yang tetap dan berhasil, jika
keintiman tidakberkembang individu mengalami “isolasi” yang membentuk
persahabatan yang sehat dan ketidakmampuan melakukan hubungan sosial individu
=> frustasi =>introspeksi diri untuk menemukan kesalahan.
Introspeksi
diri mengakibatkan depresi dan isolasi => menghambat keinginan untuk
bertindak atas inisiatifnya sendiri.Oran tua / guru memiliki implikasi penting
pada kematangan mereka (kemandirian & kebebasan).Perkembangan emosional,
intelektual dan sosial. Pada usia ini, kita sudah bukan lagi anak-anak atau
remaja, tetapi pemuda atau pemudi. Kita sudah dianggap dewasa dan kita dituntut
untuk bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan kita.
Tugas kita pada periode ini adalah mengenal dan mengijinkan diri kita untuk
mengenal orang lain secara sangat dekat, atau masuk ke hubungan yang intim
sedang kegagalan kita akan membuat kita terisolasi atau mengisolasi diri dari
sekeliling kita. Keintiman dapat terjadi karena kita telah mengenal diri kita
dan merasa cukup aman dengan identitas diri yang kita miliki. Akibat dari rasa
aman ini adalah mengijinkan orang lain untuk sharing dengan kita melalui
hari-hari dan malam-malam kita, mengenal kelebihan dan kekurangan kita. Jadi,
pada pokoknya Intimacy adalah hubungan dua orang yang sudah matang dan mengenal
diri masing-masing dan menciptakan suatu kesatuan yang menghasilkan karya-karya
yang lebih besar.
Periode
Perkembangan : Masa Pertengahan Dewasa (antara pertengahan 20-50 tahunan)
Karakteristik
:
Mencakup
rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna membantu generasi
muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas
/ bangkit.Sebaliknya, stagnasi / mandeg => ketika individu tidak melakukan
apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak,
individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan
warisan diri yang positif danmembimbing orang yang lebih muda.Tugas kita dalam
fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity dan stagnasi.
Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luasdaripada
intimacy karena rasa kasih ini telah men"generalize" ke kelompok
lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam
hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka
dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya saja, sebagian
sangat besardari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau meninggal
demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada. Begitu pula dengan orang-orang
yangmelakukan pekerjaan sukarela di Salvation Army, Word Vision, Palang Merah,
Green Peace dan NGO (Non-Governmental Organization) bisa dikatakan termasuk
mereka yang memiliki Generativity ini.Perkembangan Fisik Mengetahui besarnya
bayi dalam kandungan pada waktu tertentu tahap perkembangannya terhitung pada
hari pertama menstruasi, terutama dalam ukuran-ukuran panjang dan berat bayi
terbagi menjadi :
· 8
Minggu – panjangnya satu inchi
· 12
Minggu – panjangnya tiga inchi
· 16
Minggu – panjangnya enam inchi
· 20
Minggu – panjangnya sepuluh inchi
· 24
Minggu – panjangnya dua belas inchi, dan beratnya lebih ½ Kg
· 28
Minggu – panjangnya lima belas inchi beratnya 1 Kg
· 32
Minggu – panjangnya enam belas inchi dan beratnya 2 Kg
· 36
Minggu - panjangnya delapan belas inchi dan beratnya 2 ½ sampai 2 ¾ Kg[17]
BAB
III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan tadi
kita bisa mengambil kesimpulan-kesimpulan, yang diantaranya yaitu :
ü Pertumbuhan
merupakan proses perubahan yang bersifat kuantitatif dan menyangkut jasmaniah.
ü perkembangan
adalah proses perubahan yang dimulai sejak hingga rentang hidupnya yang
bersifat kualitatif dan bersangkutan dengan psikis manusia.
ü Kematangan
dalam proses pembelajaran ialah suatu keadaan / tahap dalam pencapaian proses
pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam kegiatan belajar yang dilakukannya.
Dengan demikian kematangan dalam pendidikan ialah kematangan potensi fisik
& potensi metal psikologis yang telah dicapai dalam suatu tahap pertumbuhan
& perkembangan.
ü Fungsi
Kematangan dalam Belajar
· Memberi
bahan mentah/bahan baku bagi suatu perkembangan.
· Memberi
batas & kualitas perkembangn.
· Memberi
kemudahan bagi pendidik untuk membimbing.
ü Aspek-aspek
pertumbuhan dan perkembangan, yaitu :
· Perkembangan
Fisik,
· Perkembangan
Kognitif
· Perkembangan
Sosial-Emosional
ü Faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, yaitu :
· Nativisme
· Empirisme
· Konvergensi
ü Psikomotorik
diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang
melibatkan otot-otot juga gerakan-garakannya.
ü Tahap
Perkembangan Psikomotorik, yaitu :
· Masa
Pra-Kelahiran,
· Masa
Bayi,
· Masa
Kanak-Kanak,
· Masa
Kanak-Kanak Tengah dan Akhir,
· Masa
Remaja.
ü Perkembangan
psikomotorik merupakan prasyarat untuk bisa belajar, tetapi perkembangan
psikomotorik juga merupakan hasil belajar.
ü Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan psikomotorik, yaitu :
1. Faktor
yang terdapat dari diri siswa sendiri. Diantaranya, terbagi menjadi :
a. Konstitusi
tubuh,
b. Struktur
& keadaan fisik,
c. Koordinasi
motorik,
d. Kemampuan
metal & bakat,
e. Tingkat
emosionalitas yang terkendali.
2. Faktor
yang berasal dari lingkungan
a. Lingkungan
keluarga,
b. Lingkungan
sekolah (dunia pendidikan).
ü Dengan
adanya perbedaan setiap individual membuat perkembangan setiap individual
berbeda, dikarenakan ada individual yang proses perkembangan psikomotoriknya
cepat ada pula yang proses perkembangan psikomotoriknya lambat. Hal tersebut
dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya, sehingga proses perkembangannya berbeda-beda.
[2] John W.
Santrock, Perkembangan Anak - Jilid 1.
Hal 7
[3] Drs. M.
Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum
dan Perkembangan. Hal 136
[4]Drs. M.
Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum
dan Perkembangan. Hal 137
[5]kapanpunbisa.blogspot.com/2011/09/kematangan-dalam-belajar.html
[6] Yusuf
Syamsu,Psykologi Perkembangan Anak dan
Remaja.
[9]Drs.Sumadi
Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D, Psikologi
Pendidikan. Hal 176-178
[10] Drs.
Muhibbin Syah M.Ed., Psikologi Pendidikan “Suatu Pendekatan Baru”. Hal 59
[11] John W.
Santrock, Perkembangan Anak Jilid 1.
Hal 19-20
[14]Dr. Singgih D. Gunarsah, 1981 : 87
[15]PERKEMBANGAN ANAK NORMAL DAN
KEBIASAAN-KEBIASAANNYA, http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-perkembangan_02.html
[16] John W.
Santrock, Perkembangan Anak. Hal
208-219